Selasa, 22 Juni 2010

jawaban UAS METLIT

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan,yang berlangsung dalam lingkungan pendidikan. Interaksi pendidikan berfungsi membantu pengembangan seluruh potensi, kecakapan dan karakteristik peserta didik, baik yang berkenaan dengan segi intelektual, social,apektif, maupun fisik motorik (Nana syaodih,2009:10).
Dalam GBHN (ketetapan MPR No. IV/MPR/1978),berkenaan dengan pendidikan di kemukakanantara lain sebagai berikut: “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan dan tanggung jawab bersama antar keluarga masyarakat dan pemerintah.”
Sedangkan GBHN tahun 1988 (Tap MPR No. II/ MPR/1988), tentang pendidikan dikemukakan antara lain sebagai berikut:”Pendidikan merupakan suatu proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.” (Nur Uhbiyati, 2005:219).
Dari uraian diatas keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak, di lingkungan keluarga pertama mendapat pengaruh, karena itu keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, yang bersifat informal dan korati. (Darma susanto,1994:312). Lahirnya keluarga merupakan sebagai lembaga pendidikan semenjak manusia itu ada. Ayah dan ibu di dalam keluarga sebagai pendidiknya, dan anak sebagai siterdidiknya. Sebagaimana firman Allah SWT:
        ••   
           


“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”


Sekolah sebagai suatu system, mencakup beberapa komponen, dan setiap komponenterdiri dari beberapa factor.
Kalau kita pahami melalui perspektif dialektika madrasah adalah sintesis dari tesis berupa pesantren dan antitesis berupa sekolah umum jawaban pastinya adalah MA (Madrasah Aliyah). Namun, mengapa kita ragu-ragu (sehingga harus berpikir lama ) untuk mengatakan bahwa MA adalah model sekolah yang lebih unggul ? padahal sudah jelas, madrasah telah mengakomodasikan dua model lembaga pendidikan sekaligus, yaitu pesantren dan sekolah umum. Bukankah di MA terdapat porsi agama dan umum yang hamper berimbang? Dengan demikian, bukankah MA merupakan solusi untuk menutup kelemahan dua lembaga pendidikan yang telah hadir terlebih dahulu ?
Di tataran operasional, pertanyaan serupa di atas juga muncul. Jika MA merupakan model institusi pendidikan yang menjadi solusi, lalu mengapa di mata masyarakat MA masih terkesan sebagai sekolah kelas dua? Orang belum merasa bangga mengatakan bahwa anaknya bersekolah di MA, tak sebangga apabila mengatakan anak mereka diterima di SMK, apalagi yang favorit.
Ada kesan yang kuat bahwa belajar di madrasah sudah pasti akan tertinggal di bidang pelajaran umum. Ketertinggalan di mata pelajaran umum ini tidak mampu ditutupi oleh kenyataan bahwa sesungguhya siswa madrasah memiliki keunggulan di bidang agama. Hanya kalangan masyarakat tertentu saja yang bisa memahami bahwa keunggulan di bidang agama memiliki nilai lebih ketimbang ketertinggalan di bidang umum. Pandangan masyarakat yang seperti ini banyak berkembang di daerah-daerah kantong santri, terutama di pedesaan yang masyarakatnya masih agamis dan bersih dari pemikiran sekuler- hedonistis (Abdullh Munir, 2010:61)
Sementara itu, masyarakat di kota-kota besar yang sudah terjebak dalam persaingan sosial yang sangat ketat memiliki perilaku yang khas, terutama dalam memandang dalam menempatkan agama. Mereka menganggap urusak karier dan pekerjaan harus didahulukan. Sebab, hal itu berkaitan dengankehidupan yang sedang dihadapi di depan mata, kehidupan dunia. Adapun urusan agama merupakan urusan akhirat yang bias ditunaikan kelak jika masalah duniawi sudah terpenuhi. Mereka berkeyakinan bahwa jika kehidupan dunia seseorang tak menentu, kehidupan akhirat juga akan sulit digapai. Energi mereka habis untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan dunia.
Di sisi lain mereka bertanya, bukankah sebagian besar pengalaman agama juga menuntut adanya kemampuan finansial yang tinggi? Lihatlah ajaran Islam tentang haji, zakat, sedekah, ataupun akikah, yang semua ajaran itu menuntut orang yang hendak menunaikannya mapan secara financial. Belum lagi ajaran agama tentang tanggung jawab social umat Islam untuk peduli pada nasib kaum miskin dananak yatim.
Dari cara berpikir seperti ini, maka lahirlah pandangan bahwa menyekolahkan anak di sekolah umum bertujuan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di dunia. Karena kehidupan dunia adalah kehidupan yang sedang di hadapi di depan mata, otomatis harus didahulukan ketimbang akhirat. Agama bisa dicapai sambil jalan atau dikejar nanyi ketika kehidupan mapan sudah didapat dengan cara mendatangkan ustaz yang bisa mengajari agama secara privat.
Inilah yang terjadi di kebanyaka keluarga Indonesia yang sesungguhnya sudah meyakini bahwa agama itu penting. Akan lebih parah lagi jika kita meminta pandangan kepada mereka yang sama sekali tidak menganggap penting masalah agama. Tren masyarakat saat ini yang mengatakan bahwa lulusan sekolah umum lebih terjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ketimbang lulusan skolah agama sedikit banyak lahir dari cara pandang ini. Kalau tren sudah berkata demikian, masyarakat biasanya akan mengekor saja. Otomatis, jadilah madrasah menjadi sekolah kelas kedua. (abdulllah Munir,2010: 61)
Kodisi ini diperparah oleh sikap pemerintah yang setali tiga uang. Birokrasi tidak kompak untuk menyikapi dan mengatakan baik lulusan madrasah maupun sekolah umum sama-sama memiliki kemampuan. Kebanyakan departemen di pemerintahan lebih menerima lulusan sekolah umum dan kurang memberikan ruang kepada lulusan madrasah. Sikap seperti ini juga banyak dipilih oleh perusahaan-perusahaan. Padahal, lulusan madrasah juga memiliki kecakapan sebagaimana lulusan sekolah umum, sebab siswa-siswa madrasah juga mendapatkan materi pelajaran umum yang porsinya sama dengan siswa sekolah umum. Bahkan, mereka memiliki keunggulan di bidang agama.
Berdasarkan fenomena di atas penulis merasa tertarik untuk mengungkapkan permasalahan tersebut, sehingga dapat diperoleh jawaban yang jelas tentang hubungan antara sekolah menengah kejuruan dengan madrasah aliyah. Untuk kepentingan tersebut penulis akan mengkajinya dan menuangkannya dalam bentuk penelitian dengan judul “Hubungan antara di Bukanya SMK Yaspida Kadudampit dengan Menurunnya Minat Orang Tua untuk Menyekolahkan Anaknya ke Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kadudampit .”


B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas dapat di rumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana keadaan SMK Yaspida ?
2. Bagaimana minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kadudampit ?
3. Bagaimana hubungan antara di bukanya SMK Yaspida dengan minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke Madrasah Aliyah Muhammadiyah Kadudampit?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :
a. Mengetahui bagaimana keadaan SMK Yaspida Kadudampit;
b. Mengetahui bagaimana minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah aliyah Muhammadiyah Kadudampit;
c. Bagaimana hubungan antara di bukanya SMK Yaspida dengan minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah aliyah Muhammadiyah Kadudampit;

2. Kegunaan penelitian
Adapun kegunaan atau manfaat yang dapat diperoleh mengenai hubungan antara di bukanya smk yaspida kadudampit dengan madrasah aliyah muhammadiyah kadudampit, yaitu :
a. Memberikan pemahaman kepada masyarakat yang mempunyai pandangan bahwa menyekolahkan anak di sekolah umum bertujuan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di dunia.
b. Menanamkam persepsi bahwa madrasah model sekolah yang lebih unggul, karena bias mengakomodasikan dua model pendidikan sekaligus yaitu pesantren dan sekolah umum.




























2. Variabel penelitian di atas adalah:
a. Di bukanya SMK Yaspida ( variable bebas/variable indevenden)
1. pelayanan istimewa (indikator)
2. memberikan inovasi baru (indikator)
b. Minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah aliyah
Muhammadiyah (variable terikat/ dependen)
1. menurun (indikator)

3. Skala yang digunakan untuk penelitian di atas adalah skala likert, karena skala likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena social. Dengan skala likert, maka variable yang akan di ukur dijabarkan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.(Riduwan,2007:87)

4. Anggapan dasar dari penelitian di atas adalah :
a. Menurunnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah aliyah Muhammadiyah setelah di bukanya SMK Yaspida.
b. Lulusan SMK akan mudah mendapatkan pekerjaan.
c. Lulusan MA sulit dalam mendapatkan lapangan pekerjaan.
5. Hipotesis dari penelitian di atas adalah : Ada pengaruh yang signifikan antara di bukanya SMK Yaspida Kadudampit dengan menurunya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah aliyah Muhammadiyah Kadudampit
HO= 0
Ha= Ada pengaruh yang signifikan antara di bukanya smk yaspida kadudampit dengan menurunnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke MA Muhammadiyah Kadudampit.



6. Sumber data dalam penelitian di atas adalah :
a. Kepala sekolah SMK Yaspida
b. Kepala sekolah MA Muhammadiyah
c. Orang tua
7. Instrumen-instrumen dalam penelitian sosial memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, seperti instrument untuk mengukur motif berprestasi, (n-ach) untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain. Walaupun instrumen-instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bias dibeli atau tidak. Selain itu, instrumen-instrumen dalam bidang sosialwalaupun telah teruji validitas analisis reliabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliabel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala atau fenomena social itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya (Sugiyono,2010:103). Penentuan instrumen penelitian diatas menggunakan matrik pengembangan instrument atau kisi-kisi instrument.

Kisi-kisi wawancara kepala sekolah Smk Yaspida
d. Awal mulanya apa yang memotivasi bapa mendirikan Smk Yaspida ?
e. Bagaimana respon masyarakat dengan di bukanya Smk Yaspida?
f. Apa misi visi Smk Yaspida?

Kisi-kisi wawancara kepala sekolah MA Muhammadiyah
a. Bagaimana respon bapa dengan di bukanya Smk Yaspida?
b. Kiat-kiat apa yang bapa lakukan supaya MA Muhammadiyah tidak kalah saing?
c. Apakah dengan adanya sekolah baru, minat orang tua tidak menurun untuk mendaftarkan anaknya ke MA Muhammadiyah?

Kisi-kisi wawancara dengan orang tua
a. Bagaimana pendapat bapa / ibu dengan di bukanya SMK Yaspida ?
b. Apakah dengan di bukanya SMK Yaspida, tidak menurunkan minat bapa atau ibu untuk menyekolahkan putra- putrid ibu ke MA Muhammadiyah ?



8. Metode yang digunakan untuk penelitian di atas adalah metode penelitian survey, karena penelitian surveidapat dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam, tetapi generalisasi yang dilakukan bias lebih akurat bila digunakan sample yang refresentatif.
Sebagaimana pendapat Karlinger (1996) menyatakan bahwa “ penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, dan berhubungan antar variabel sosiologis dan psikologis." (Riduwan, 2007:49)